the first child

                                 

  Perkenalkan, aku si anak pertama. Pada pundak kecil ini tempat mereka menyandarkan mimpi dan harapan besar padaku. Mereka mengira bahwa aku adalah si pemberani, padahal sebenarnya aku penakut yang dipaksa untuk mengambil langkah berani karena tuntutan. Lelah, tangis dan semua cerita aku simpan sendirian. Tanpa menjelaskan betapa sulit sebuah perjuangan yang kadang dibalas dengan makian. Berpegang teguh untuk menggapai sebuah mimpi. Yang masih dibuat kecewa karena tidak sesuai ekspektasi. Pundakku seperti tidak mampu membawa mimpi-mimpi ayah ibu, terlebih mimpiku sendiri. Meski kadang ingin menyerah, aku tetap berdiri. Berharap tetap diberi waras, meski batin menjerit ingin mati.

Katanya, kelahiranku adalah sebuah anugerah. Kedatanganku sangat dinantikan, lalu aku menyambut dunia bersama mereka yang resmi menjadi orang tua. Namun siapa sangka, setelah dewasa sekarang saya memikirkan hal-hal konyol seperti, “siapa yang mau terlahir sebagai anak pertama?

Kata mereka aku si keras kepala. Yang hanya bisa menggunakan marahku ketika berdebat. Aku si keras kepala, karena tiap ku berpendapat, sanggahan yang ku dapat. Apa yang ada dipikiranku jauh berbeda dengan ayah ibu. Padahal harusnya mereka tahu, bahwa keras kepalaku warisan dari ayah. Sedangkan amarahku dari ibu yang sering mengomel tidak jelas. Namun siapa tahu, jika marahku ini adalah caraku menyampaikan sebuah perasaan yang telah lama tidak didengar.

Aku dituntut untuk pintar, agar jadi orang benar. Kata mereka aku harus serba bisa, karena nanti dunia akan gila kalau tidak punya apa-apa. Kata mereka aku harus jadi baik, agar ditiru adik-adik. Aku bertanya, apakah sebuah kebebasan itu tidak bisa sampai memeluk ragaku yang seperti dijerat mimpi? Apakah hidup ku dedikasikan untuk mereka saja? Bagaimana dengan mimpi-mimpiku? Kadang pikiranku meracau, harusnya yang ku ucap sebuah maaf dan terimakasih karena sudah membesarkan ku sampai sedewasa ini.

Aku rindu rumah, ingin pulang dan menangis dipangkuan ibu lalu terlelap. Rindu menjadi anak kecil yang hanya tau bermain, yang masih bisa mengekspresikan segala perasaan dalam hati. Bu, jalan pulang masih sama kan? Rumah kita masih yang lama kan? Tunggu aku pulang Bu, biarkan di kota ini tempatku mengasingkan diri, tempatku mengais rezeki. Lalu membawa pulang seonggok mimpi yang ibu inginkan.

Teruntuk anak pertama, terimakasih karena bahumu selalu kuat. terimakasih sudah mau berjuang sendiri. terimakasih ya sudah berproses sampai saat ini. pasti berat ya sampe sering nangis diam-diam di kamar? semangat ya, ayah dan ibu udah bangga kok sama kamu, anak kecil yang mereka rawat sekarang udah berani bertarung dengan dunia yang keras ini. jangan lupakan adikmu yang selalu membanggakan kamu di depan teman-temannya. kamu adalah kakak yang hebat! ayah,ibu dan adik sayang banget sama kamu.

karena mantra anak perempuan pertama:
"kalian semua gaperlu tau gimana jatuh bangunnya aku, kalian harus melihat aku yang beruntung, bahagia, rezeki dan ibadah lancar".

Komentar

Postingan Populer